Superkapalan Berbendera Rusia Arungi Selat Hormuz di Tengah Ketegangan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Sebuah kapal supertanker yang mengibarkan bendera Rusia dilaporkan telah melewati Selat Hormuz menuju Teluk Persia. Pergerakan ini menjadi perhatian pasar global di tengah ketegangan yang melanda jalur laut strategis tersebut. Perjalanan tersebut terbilang jarang bagi kapal berbendera Rusia di area yang sedang didera konflik.

Kapal very-large crude carrier (VLCC) bernama Arhimeda, yang dibangun pada tahun 2000, berlayar ke arah barat melalui selat itu pada Kamis malam. Informasi ini didapatkan dari data pelacakan kapal yang dilansir dari Bloombergtechnoz. Arhimeda sebelumnya sempat menunjukkan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak mentah Iran, sebagai tujuan sebelum statusnya berubah menjadi "for orders," yang mengindikasikan bahwa kapal tersebut belum memiliki instruksi tujuan yang jelas.

Investor global memantau ketat aktivitas di Selat Hormuz. Hal ini disebabkan oleh konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah menyebabkan lalu lintas maritim hampir terhenti. Kondisi ini menekan pasokan energi global dan memicu lonjakan harga di pasar. Di tengah situasi tersebut, Washington dan Teheran dijadwalkan akan mengadakan pembicaraan penting di Pakistan akhir pekan ini, menyusul gencatan senjata sementara yang rapuh setelah perang meletus pada akhir Februari.

Perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab (UEA), Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), melalui CEO Sultan Al Jaber, menegaskan bahwa Selat Hormuz harus dibuka tanpa syarat. Menurutnya, akses yang dibatasi dan dikontrol oleh Iran bukanlah kebebasan navigasi, melainkan pemaksaan. "Setiap hari selat ini tetap tertutup, konsekuensinya semakin besar: pasokan tertunda, pasar menegang, dan harga naik," ujarnya yang dikutip dari Reuters.

Latar Belakang Arhimeda dan Sanksi

Kapal Arhimeda mulai menggunakan bendera Rusia pada Januari 2026, berdasarkan basis data yang dikelola atas nama Organisasi Maritim Internasional. Langkah ini menjadikannya salah satu dari empat VLCC yang beroperasi di bawah bendera negara tersebut. Peralihan bendera ini terjadi ketika Amerika Serikat memblokade Venezuela dan menyita kapal tanker, mendorong beberapa kapal dalam "armada gelap" untuk mencari perlindungan di bawah bendera Moskwa.

Muatan terakhir Arhimeda yang diketahui adalah pengiriman minyak mentah Merey dari Venezuela pada Agustus lalu. Kejadian itu terjadi beberapa bulan sebelum AS menahan mantan Presiden Nicolás Maduro dan mengklaim kendali atas aliran energi negara Amerika Selatan tersebut. Sebelum berganti nama, kapal ini bernama Vizuri dan dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS pada Juli atas dugaan keterlibatannya dalam perdagangan minyak Iran.

Dampak Penutupan Selat Hormuz

Meskipun sebagian besar lalu lintas di Selat Hormuz terhenti, pengiriman minyak mentah Iran tetap berjalan seperti biasa. Pulau Kharg, meskipun telah menjadi target serangan AS setidaknya dua kali, hanya fokus pada target militer dan tidak mengenai fasilitas vital untuk aliran minyak. Sultan Al Jaber juga menyoroti bahwa fasilitas energi di negara tetangga UEA, seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Bahrain, juga terkena serangan.

"UEA menegaskan bahwa setelah serangan besar dan ilegal terhadap infrastruktur sipil dan energi, Iran harus bertanggung jawab penuh atas kerusakan dan ganti rugi," kata Jaber. Penutupan efektif selat ini telah menyebabkan produksi minyak UEA turun lebih dari separuh. Hal ini memaksa ADNOC menghentikan sebagian besar produksinya, meskipun pendapatan minyak ADNOC pada Maret relatif tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya berkat harga minyak yang lebih tinggi dan ekspor melalui jalur alternatif.

Pemilik dan pengelola Arhimeda terdaftar sebagai Egir Shipping Ltd. di basis data Equasis, dengan alamat di Seychelles yang terkait dengan entitas lain yang dikenai sanksi AS. Sementara itu, manajer teknisnya adalah Pro Ocean Management LLC di Azerbaijan. Hingga kini, tidak ada detail kontak yang tersedia untuk kedua perusahaan tersebut.