Pedoman Islam dalam Menyikapi Harta Duniawi yang Bersifat Fana

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Dalam ajaran Islam, harta duniawi dan keturunan seringkali disebut sebagai perhiasan hidup yang fana. Untuk itu, umat Muslim perlu memahami cara menyikapi harta agar menjadi berkah, bukan malah menjerumuskan ke dalam kemaksiatan. Hal ini dijelaskan dalam khutbah Jumat oleh KH Dr. Fauzi Al-Mubarok M.Ag., seorang anggota Komisi Fatwa MUI Kota Tangerang, seperti dikutip dari laman MUI.

Khatib mengawali khutbah dengan mengajak jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Ketakwaan menjadi jalan menuju kemuliaan di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, "Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu."

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sebuah pernyataan yang secara gamblang dijelaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Kahfi ayat 46. Ayat ini menegaskan bahwa harta bukanlah tujuan akhir melainkan sarana yang sifatnya sementara. Meskipun bisa memperindah kehidupan, harta juga berpotensi melalaikan jika manusia terlalu terlena olehnya.

Islam tidak mengharamkan umatnya untuk mencari harta. Bahkan, upaya mencari rezeki yang halal merupakan sebuah kewajiban, seperti sabda Rasulullah SAW, "Mencari yang halal adalah wajib bagi setiap muslim." Harta yang diperoleh dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, misalnya melalui sedekah, membantu yang membutuhkan, membangun fasilitas ibadah, atau menafkahi keluarga.

Namun, Islam juga memberikan peringatan keras akan bahaya harta jika didapatkan dengan cara yang haram, digunakan untuk maksiat, atau membuat seseorang lalai dari kewajiban agama. Dalam Surah At-Taghabun ayat 15, Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar."

Ayat tersebut menggarisbawahi bahwa harta bisa menjadi fitnah atau cobaan. Fitnah di sini berarti ujian atau godaan yang berpotensi menjerumuskan. Orang yang terlalu mencintai harta duniawi dapat terjerumus pada sifat tamak, kikir, iri hati, bahkan menempuh cara-cara haram untuk mendapatkannya. Mereka seringkali lupa bahwa semua harta hanyalah titipan dari Allah SWT.

Lima Pedoman Mengelola Harta Duniawi

Dalam menyikapi harta duniawi, seorang Muslim diajarkan untuk menjadikannya sebagai alat, bukan tujuan utama. Umat Muslim perlu berusaha mencari rezeki yang halal, mengelolanya dengan bijak, dan menggunakannya di jalan Allah. Jangan biarkan harta menguasai hati, sehingga melupakan tujuan utama penciptaan manusia, yakni beribadah kepada Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Az-Zariyat [51] ayat 56, "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." Kehidupan dunia ini fana, sedangkan akhirat adalah kekal. Harta yang dikumpulkan dengan jerih payah tidak akan dibawa mati kecuali amal saleh yang diperbuat dengannya.

Berikut adalah lima pedoman agar harta yang dimiliki menjadi berkah:

1. Niatkan Mencari Harta untuk Beribadah

Ketika seseorang bekerja, berbisnis, atau melakukan aktivitas ekonomi lainnya, niatkanlah untuk menafkahi keluarga, membantu sesama, dan berinfak di jalan Allah. Niat yang tulus akan mengubah aktivitas duniawi menjadi ibadah yang berpahala.

Allah Ta'ala berfirman dalam QS Huud: 15-16, “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang di akhirat (kelak) tidak akan memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan.”

Nabi Muhammad SAW juga bersabda, "Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Carilah Harta dengan Cara yang Halal

Jauhilah segala bentuk riba, penipuan, korupsi, pencurian, dan semua transaksi yang dilarang dalam syariat Islam. Rezeki yang haram tidak akan mendatangkan berkah dan justru dapat menjadi penyebab kehancuran di dunia maupun di akhirat.

Sebagaimana firman Allah dalam QS Al Mu’minun: 51, “Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

3. Tunaikan Hak-hak Harta

Ini mencakup zakat bagi yang mampu, infak, dan sedekah. Menunaikan hak harta bukan mengurangi, melainkan membersihkan dan mengembangkan harta. Allah SWT berfirman dalam QS At-Taubah: 103, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Asma binti Abu Bakar ra., “Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029, 88).

4. Jangan Berlebihan dalam Mencintai Dunia

Rasulullah SAW mengingatkan, "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa (hati)." (HR. Bukhari dan Muslim). Sikap qana'ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak tamak, merupakan kunci kebahagiaan sejati.

5. Pergunakan Harta untuk Kebaikan

Manfaatkan harta untuk pendidikan anak-anak, kesehatan keluarga, membantu kaum dhuafa, membangun fasilitas umum yang bermanfaat, serta mendukung dakwah Islam. Harta yang digunakan di jalan Allah adalah investasi terbaik untuk kehidupan akhirat.

Dari Abu Barzah al-Aslami, Rasulullah saw. bersabda, “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan; tentang ilmunya, pada perkara apa dia amalkan; tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR at-Tirmidzi, ad-Darimi, al-Baihaqi, Abu Ya’la dan ar-Ruyani).

Kehidupan dunia adalah persinggahan sementara. Harta yang dikumpulkan, seberapa banyak pun itu, tidak akan abadi. Yang kekal adalah amal saleh yang dilakukan dengannya. Dengan demikian, pengelolaan harta secara bijak dan sesuai tuntunan syariat akan membawa keberkahan di dunia dan pahala di akhirat.