Menyeimbangkan antara usaha maksimal (ikhtiar) dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (tawakal) merupakan kunci dalam menjalani kehidupan, terutama dalam mencari rezeki. Kisah Urwah bin Udzainah, seorang penyair dari Madinah, menjadi teladan inspiratif mengenai hubungan fundamental ini.
Urwah bin Udzainah, yang juga dikenal sebagai Ibnu Udzainah, pernah mengalami masa-masa sulit ekonomi saat menetap di Madinah. Dalam upaya mengatasi kesulitannya, ia disarankan untuk menemui sahabatnya, Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, yang saat itu berada di Syam.
Kisah ini, seperti dikutip dari Cahaya yang melansir laman Kemenag, diriwayatkan oleh Muhammad Mutawalli Asy-Syarawi dalam kitab Qashahsus Shahabati was Shalihin. Para kerabat Ibnu Udzainah mengetahui kedekatan hubungan antara sang penyair dan khalifah, sehingga mereka berharap bantuan dari Hisyam bin Abdul Malik.
Mendengar saran tersebut, Ibnu Udzainah melakukan perjalanan ke Syam dan berhasil menemui Khalifah Hisyam. Ia diterima dengan baik dan menjelaskan kondisi kehidupannya yang sedang dalam kesempitan dan kesulitan. Namun, alih-alih langsung memberikan bantuan, sang Khalifah justru mengingatkan Ibnu Udzainah akan bait syair yang pernah ia ucapkan sendiri:
لَقَدْ عَلِمْتُ وَمَا الْإِسْرَافُ مِنْ خُلُقِي أَنَّ الَّذِي هُوَ رِزْقِي سَوْفَ يَأْتِينِي
Artinya: “Sungguh aku mengetahui dan boros bukanlah tabiatku, bahwa rezekiku pasti akan datang menghampiriku.”
Respons Hisyam membuat Ibnu Udzainah merasa kecewa karena tidak sesuai dengan harapannya. Dengan perasaan campur aduk, ia memutuskan untuk kembali ke Madinah. Sebelum berpamitan, Ibnu Udzainah menyampaikan rasa terima kasihnya, “Semoga Allah membalas kebaikanmu, wahai Amirul Mukminin. Engkau telah mengingatkanku saat aku lupa, dan menegurku saat aku lalai.”
Penyesalan Khalifah dan Makna Tawakal
Setelah kepergian sahabatnya, Khalifah Hisyam bin Abdul Malik baru menyadari kekeliruan sikapnya dan merasakan penyesalan. Ia kemudian mengutus pengawal untuk menyusul Ibnu Udzainah dan membawakan hadiah sebagai bentuk penghargaan serta permohonan maaf.
Para utusan khalifah harus mencari cukup lama karena Ibnu Udzainah terus berpindah tempat. Akhirnya, mereka berhasil menemukan sang penyair di kediamannya di Madinah. Utusan tersebut menyampaikan pesan dari Khalifah, “Amirul Mukminin menyesal atas sikapnya. Ini ada hadiah-hadiah darinya untukmu.”
Mendengar pesan dan menerima hadiah tersebut, Ibnu Udzainah melanjutkan bait syairnya yang sebelumnya:
أَسْعَى لَهُ فَيُعَنِّينِي طَلَبُهُ وَلَوْ قَعَدْتُ أَتَانِي لَا يُعَنِّينِي
Artinya: “Aku berusaha mengejarnya, maka justru ia menyusahkanku. Namun jika aku duduk diam, ia datang kepadaku tanpa memberatkanku.”
Kisah ini memberikan pemahaman mendalam bahwa rezeki tidak semata-mata diperoleh dari usaha lahiriah yang keras. Terdapat peran krusial tawakal, yaitu berserah diri kepada Allah setelah segala ikhtiar atau usaha telah dilakukan.
Sikap tawakal ini selaras dengan firman Allah dalam Surat At-Thalaq ayat 2–3:
وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللّٰهَ بالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً (3
Artinya : “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya [2]. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.[3]”
Narasi Urwah bin Udzainah ini menegaskan bahwa rezeki sering kali datang saat hati telah terbebas dari ketergantungan pada manusia, dan sepenuhnya berserah diri kepada Allah, setelah menjalankan ikhtiar secara wajar.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·