Hukum pelaksanaan tawaf dan sa’i menggunakan kursi roda atau skuter menjadi perhatian penting bagi jemaah haji, khususnya para lansia. Kondisi fisik yang terbatas seringkali menjadi kendala bagi banyak jemaah berusia lanjut saat menunaikan ibadah di Mekkah, sehingga membutuhkan alat bantu.
Permasalahan hukum ini merujuk pada pandangan ulama yang tercatat dalam kitab Al Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah. Pembahasan ini bertujuan untuk memastikan keabsahan ibadah haji agar sesuai dengan ketentuan syariat Islam, seperti dilansir dari Cahaya.
Menurut keterangan dalam kitab Al Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, tawaf dengan skuter atau kursi roda bagi jemaah yang memiliki uzur—seperti sakit atau lanjut usia—adalah sah dan diperbolehkan. Praktik ini dianalogikan dengan tawaf yang dilakukan dengan menaiki tunggangan.
Para ulama bersepakat mengenai keabsahan ini. Hal tersebut didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah:
عن أم سلمة قالت : حججت مع رسول الله صلى الله عليه و سلم فاشتكيت قبل أن أطوف بالبيت فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( اركبي فطوفي راكبة وراء الناس ) وهو يصلي حينئذ إلى حاشية البيت
Artinya: Dari Ummi Salamah, ia berkata, aku haji bersama Rasulullah, lalu aku mengeluh kepada beliau ketika akan tawaf. Kemudian Rasulullah bersabda: Naiklah, tawaflah berkendara di belakang rombongan. Rasulullah pada saat itu akan melaksanakan shalat di sisi ka’bah. (Mu’jam Tabrani Kabir, 24473).
Ahli fikih lebih lanjut menjelaskan bahwa:
لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي صِحَّةِ طَوَافِ الرَّاكِبِ إِذَا كَانَ لَهُ عُذْرٌ لِحَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: شَكَوْتُ إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي أَشْتَكِي فَقَال: طُوفِي مِنْ وَرَاءِ النَّاسِ وَأَنْتِ رَاكِبَةٌ
Artinya: Para ahli fikih sepakat bahwasanya sah bagi yang memiliki udzur (semisal sakit atau lansia) untuk tawaf dengan menggunakan kursi roda. Demikian ini berdasar pada hadis yang diriwayatkan oleh Ummi Salamah RA, bahwsanya beliau mengadu (ketidakmampuan untuk bertawaf) kepada Baginda Rasulullah Saw. Kemudian beliau Saw memerintahkan Ummu Salamah untuk berthawaf dengan menaiki tunggangan”.
Perbedaan Pandangan Ulama untuk Jemaah Tanpa Uzur
Mengenai hukum tawaf menggunakan kursi roda atau skuter tanpa adanya uzur, ulama memiliki pandangan yang berbeda. Perbedaan ini memunculkan dua pendapat utama.
Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa jemaah yang tawaf dengan tunggangan tanpa uzur tidak wajib membayar dam (denda). Argumentasi ini didasarkan pada hadis Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan tawaf wada’ (perpisahan) dengan menaiki unta.
Selain itu, Jabir juga pernah mengatakan bahwa Rasulullah SAW melakukan tawaf dan sa’i (antara Bukit Shafa dan Marwah) dengan menaiki tunggangan. Menurut Madzhab Syafi’i, Allah SWT memerintahkan tawaf secara mutlak, sehingga pelaksanaannya dengan cara apapun dianggap mencukupi, dan tidak boleh membatasi yang mutlak tanpa dalil. Ini juga merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal.
Wَاخْتَلَفُوا فِي حُكْمِ الطَّوَافِ رَاكِبًا بِلاَ عُذْرٍ فَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجِبُ عَلَيْهِ دَمٌ لِحَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَافَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ عَلَى بَعِيرٍ، يَسْتَلِمُ الرُّكْنَ بِمِحْجَنٍ. وَقَال جَابِر: طَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ”.
وَلأَِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ بِالطَّوَافِ مُطْلَقًا فَكَيْفَمَا أَتَى بِهِ أَجْزَأَهُ، وَلاَ يَجُوزُ تَقْيِيدُ الْمُطْلَقِ بِغَيْرِ دَلِيلٍ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ.
Pendapat Ulama yang Mewajibkan Dam
Sementara itu, Madzhab Hanafi, Maliki, dan salah satu riwayat dari Madzhab Hambali menyatakan bahwa berjalan saat tawaf adalah wajib. Oleh karena itu, jika seseorang tawaf dengan menaiki tunggangan tanpa uzur, padahal ia mampu berjalan, ia wajib dikenakan sanksi dam.
Dasar hukum pendapat ini adalah sabda Rasulullah SAW: “Thawaf di Ka’bah itu sama halnya dengan Shalat.” Mereka berargumen bahwa tawaf adalah ibadah yang berkaitan dengan Baitullah, sehingga tidak boleh dilakukan dengan menunggangi sesuatu tanpa uzur, mirip dengan pelaksanaan salat.
Pendapat ini juga didukung oleh firman Allah SWT: “Dan berthawaflah kalian di baitullah”. Menurut madzhab ini, tawaf dengan naik tunggangan tidak dianggap sebagai tawaf secara hakikat, yang berarti ada kekurangan dalam ibadah sehingga wajib membayar dam untuk menutupinya. Madzhab Hanafi menambahkan, jika pelanggar masih di Mekkah, ia wajib mengulangi tawafnya. Namun, jika sudah kembali ke negaranya, cukup dengan membayar dam.
وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَأَحْمَدُ فِي إِحْدَى الرِّوَايَاتِ عَنْهُ، إِلَى أَنَّ الْمَشْيَ فِي الطَّوَافِ مِنْ وَاجِبَاتِ الطَّوَافِ، فَإِنْ طَافَ رَاكِبًا بِلاَ عُذْرٍ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى الْمَشْيِ وَجَبَ عَلَيْهِ دَمٌ، وَاسْتَدَلُّوا عَلَيْهِ: بِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ بِمَنْزِلَةِ الصَّلاَةِ. وَلأَِنَّ الطَّوَافَ عِبَادَةٌ تَتَعَلَّقُ بِالْبَيْتِ فَلَمْ يَجُزْ فِعْلُهَا رَاكِبًا لِغَيْرِ عُذْرٍ كَالصَّلاَةِ، وَلأَِنَّ اللَّهَ أَمَرَ بِالطَّوَافِ بِقَوْلِهِ: {وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ}، وَالرَّاكِبُ لَيْسَ بِطَائِفٍ حَقِيقَةً، فَأَوْجَبَ ذَلِكَ نَقْصًا فِيهِ فَوَجَبَ جَبْرُهُ بِالدَّمِ، وَزَادَ الْحَنَفِيَّةُ: إِنْ كَانَ بِمَكَّةَ فَعَلَيْهِ الإِْعَادَةُ، وَإِنْ عَادَ إِلَى بِلاَدِهِ فَعَلَيْهِ دَمٌ
Kesimpulannya, penggunaan kursi roda atau skuter saat tawaf dan sa’i bagi jemaah yang memiliki uzur, seperti lansia atau sakit, adalah sah dan diperbolehkan. Namun, bagi jemaah yang tidak memiliki uzur, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, mulai dari yang membolehkan tanpa denda hingga yang mewajibkan dam atau pengulangan ibadah tersebut.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·