Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Indonesia telah berhasil mengatasi masa-masa kritis terkait pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji (LPG). Keyakinan ini muncul di tengah gejolak global akibat konflik di Timur Tengah yang sempat menyebabkan gangguan distribusi serta kenaikan harga minyak dunia, demikian dilansir dari Money.
Menurut Bahlil, kondisi pasokan energi nasional saat ini berada dalam keadaan aman. Stok BBM domestik dilaporkan terjaga di atas batas minimal, yakni mampu bertahan selama lebih dari 20 hari. Sementara itu, ketersediaan LPG juga disebut berada di atas batas minimal 10 hari.
Bahlil Lahadalia tidak menampik bahwa pihaknya sempat merasa khawatir mengenai ketersediaan energi dalam negeri. Namun, berkat kerja sama tim dan komunikasi yang efektif, tantangan tersebut berhasil diatasi. Pernyataan ini disampaikannya pada acara halal bihalal Partai Golkar, Rabu (8/4) malam.
Indonesia sempat berada pada titik kritis pasokan LPG pada tanggal 4 April lalu, di mana cadangan diperkirakan tidak akan bertahan selama 10 hari. Situasi ini memicu pemerintah untuk bergerak cepat dalam mencari solusi. Pemerintah kemudian berhasil bernegosiasi dengan sejumlah negara seperti Jepang, Australia, dan Brunei Darussalam untuk mengalihkan kargo LPG. Berkat upaya tersebut, cadangan LPG kini kembali aman dan berada di atas 10 hari.
Bahlil juga mengungkapkan bahwa sektor energi nasional masih menghadapi tantangan serius, terutama tingginya ketergantungan pada impor LPG. Sekitar 75 persen dari total kebutuhan LPG nasional, yang mencapai 8,5 juta ton per tahun, masih dipenuhi melalui impor. Sementara itu, produksi domestik baru mencapai sekitar 1,6 juta ton per tahun.
Peningkatan Produksi dan Kebijakan Biofuel
Untuk BBM jenis solar, Indonesia sudah tidak lagi melakukan impor. Total konsumsi solar dalam negeri sekitar 40 juta kiloliter per tahun, dan seluruhnya telah terpenuhi oleh industri dalam negeri melalui program B40. Pemerintah berencana untuk menerapkan kebijakan Biodiesel 50 (B50) mulai 1 Juli 2026.
Penerapan B50 ini diharapkan mampu menghasilkan surplus solar sekitar 4 juta kiloliter pada tahun ini, menjadikan Indonesia sebagai negara yang pertama kali surplus solar. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya efisiensi energi di tengah dinamika geopolitik global.
Sementara untuk bensin, konsumsi dalam negeri mencapai sekitar 39 juta kiloliter. Dari jumlah tersebut, produksi domestik melalui kilang-kilang mampu memenuhi sekitar 14,3 juta kiloliter, sedangkan sisanya masih harus diimpor.
Pada Januari 2026, pemerintah meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kalimantan Timur. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan produksi bensin sebesar 5,6 juta kiloliter, solar 4,5 juta kiloliter, dan LPG 60.000 ton. Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas energi dan mengurangi ketergantungan impor.
Himbauan Hemat Energi
Meskipun stok energi nasional dinyatakan aman, Bahlil Lahadalia tetap menghimbau masyarakat untuk menggunakan BBM maupun LPG secara bijak dan arif. Hal ini mengingat kondisi global yang masih bergejolak dan tekanan ekonomi yang serupa dengan masa pandemi Covid-19.
Pemerintah terus mendorong kesadaran untuk hemat energi menjadi kebiasaan sehari-hari, baik di kantor maupun di rumah. Selain mematikan lampu saat tidak digunakan, masyarakat juga diajak beralih ke kendaraan listrik sebagai upaya penghematan energi dan dukungan terhadap penggunaan energi bersih.
Langkah lain yang didorong adalah penerapan pola kerja fleksibel melalui skema Work From Home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) untuk mengurangi mobilitas dan menekan konsumsi BBM. Namun, sektor energi dikecualikan dari kebijakan WFH karena peran strategisnya dalam menjaga pasokan dan pelayanan yang optimal.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·